Kapan_Yesus_Lahir?
Kapan Yesus Lahir?
Saya terbiasa membaca kisah kelahiran Yesus sebagai kombinasi kisah dari Lukas dan Mateus, seakan-akan kisah kelahiran Yesus yang melibatkan nama-nama seperti Herodes Agung, Quirinius, atau juga beberapa detail seperti para gembala serta tiga raja itu adalah satu kisah yang utuh. Namun ternyata bila kedua kisah kelahiran Yesus menurut Lukas dan Mateus ini dibaca dan diteliti secara terpisah maka akan kelihatan betapa besar pertentangan antara keduanya. Pertentangan paling nyata adalah soal waktu kelahiran Yesus. Kapan Yesus lahir?
Kadang kita berpikir, untuk apa bertanya tentang fakta sejarah, karena toh Kitab Suci bukan dokumen sejarah. Seorang teman dengan berapi-api mengatakan bahwa walaupun ada pertentangan dalam kisah kitab suci, imannya tak akan diganggu gugat. Saya kira iman saya juga tidak akan diganggu gugat juga. Tapi dia memberikan alasan mengapa imannya tidak terganggu; “Because biblical accoutns are not historical.” Kalimat ini sangat berbahaya. Apa yang dimaksudkan dengan “historical?” Sebuah mithos adalah sesuatu yang historical, because it was (and is still being) told in a particular historical context. Karena itu mithos juga bersifat historis. Kisah kitab suci juga demikian….!!!
Menurut kisah narratives di injil Lukas, Yesus lahir pada saat terjadinya sensus penduduk di masa Quirinius. Benar bahwa Quirinius menjadi magistrate di Syria dan ada evidence tentang sensus yang diadakan di masa Quirinius. Sensus tersebut menurut bukti-bukti arkelogis dan bukti tertulis lainnya, terjadi pada tahun 6 masehi. Jadi kalau kelahiran Yesus dihubungkan dengan sensus, maka Yesus seharusnya lahir pada tahun 6 Masehi.
Dalam paragraph kedua dari “Arabic Gospel of The Infancy” dimasukan juga data tentang census penduduk yang dimulai oleh Kaisar Augustus.
“In the three hundred and ninth year of the era of Alexander, Augustus put forth an edict, that every man should be enrolled in his native place. Joseph therefore arose, and taking Mary his spouse, went away to Jerusalem, and came to Bethlehem, to be enrolled along with his family in his native city.”
Era pemerintahan Alexander dimulai sekitar tahun 336/335 BCE. Jadi tahun ke 309 dari masa pemerintahan Alexander sama dengan tahun 29/28 BCE. Benar bahwa dalam catatan sejarah Kaisar Augustus mengumumkan sensus dalam tahun tersebut. Lalu mengapa Lukas menyatakan bahwa sensus yang diadakan pada masa Quirinius (tahun 6 CE) merupakan sensus pertama di masa Augustus? Mungkin sensus yang diumumkan oleh Augustus di tahun 29/28 BCE tersebut baru direalisasikan ketika Quirinius menjadi magistrate di Sirya. Catatan sejarah menyatakan bahwa sensus di Yudea yang diadakan di masa Quirinius terjadi pada tahun 6 masehi. Dan bila kelahiran Yesus dihubungkan dengan peristiwa sensus ini, maka Yesus harus dilahirkan di tahun 6 CE.
Data ini berbeda dengan yang diberikan oleh Mateus. Dikatakan oleh Mateus bahwa Yesus lahir di masa Herodes Agung memerintah. Dan keluarga kudus harus hijrah ke Mesir selama 2 tahun hingga saat Herodes meninggal. Literary evidence mengatakan bahwa Herodes Agung meninggal tahun 4 sebelum masehi. Dan bila Yesus lahir dua tahun sebelum Herodes meninggal, maka Yesus harus sudah terlahir di tahun 6 sebelum Masehi. Biblical scholars memberikan perkiraan bahwa Yesus mungkin terlahir antara tahun 6-4 sebelum masehi.
Jadi dari dua account ini nampak bahwa antara Lukas dan Mateus ada jarak tentang tahun kelahiran Yesus yang cukup jauh, perbedaannya antara 10 tahun sampai 12 tahun. Mana yang benar? Saya bisa memperkirakan jawaban yang akan diberikan pembaca yakni bahwa kita tidak usah berpusing dengan hal-hal seperti ini, karena hal ini tidak berhubungan dengan iman. Pernyataan seperti ini kini sudah lewat masanya ketika semua huruf yang tertulis dikitab suci dianggap benar dan tak usah dipertanyakan.
Soal lain seputar kelahiran Yesus. Menurut Lukas, keluarga Yosef dan Maria tinggal di Nazareth dan datang ke Betlehem utk maksud sensus. setelah sesnsus dan setelah melaksanakan semua tuntutan hukum seputar kelahiran Yesus mereka kembali ke Nazareth. Namun Mateus memulai kisahnya di Betlehem dan setelah kematian Herodes mereka kembali lagi ke Betlehem, lalu pindah ke Nazareth. Kisah Mateus mengandaikan bahwa keluarga Yosef dan Maria tinggal di Betlehem sebelum kelahiran Yesus. Dan sangat natural bahwa setelah hijrah ke Mesir mereka kembali lagi ke Betlehem. It makes sense if Bethlehem was their hometown.
Tentang pembunuhan massal kanak-kanak di Betlehem oleh Herodes. Josephus mendaftarkan begitu banyak kelaliman Herodes bahkan pembunuhan terhadap anaknya sendiri demi mempertahankan kekuasaannya. Ia memiliki sepuluh isteri (Doris, Mariamme I, Mariamme II, Malthace, Cleopatra, Pallas, Phaedra, Elpis, anak dari Salome sudarinya (Alexas), serta seorang lagi sepupunya sendiri (Mariamme III). Dari kesepuluh isterinya ini dia memiliki banyak anak yang masing-masingnya saling mencurigai serta berusaha untuk merebut kekuasaan dari tangannya sendiri. Karena itu Herodes memerintahkan seorang Judea, Othello untuk membunuh salah satu isterinya beserta kakek dan ibu dari isterinya. Dua suami saudarinyapun dibunuh Herodes. Tiga anaknya sendiripun harus mati karena kekejamannya. Tingkah laku Herodes seperti ini membuat Kaisar Augustus bergumam, “It is better to be Herod’s pig than his son” (Kalimat ini dicatat oleh Josephus dalam Jewish Antiquities, Lihat catatan kaki). Saat ia dirundung penyakit di akhir hidupnya dan dari ranjang sakitnya ia memerintahkan untuk membunuh ratusan laki-laki di Jericho di saat kematiannya, sehingga terdengar jeritan tangisan di hari kematiannya walau itu bukan untuk menangisi dirinya.
Dari kejadian seperti ini bisa dibayangkan bahwa Herodes pasti tanpa merasa bersalah bisa membunuh ratusan bayi di Betlehem di saat Yesus lahir. Namun kejadian pembunuhan massal bayi di Betlehem ini tidak dicatat oleh Josephus. Bila jumlah bayi yang dibunuh di Betlehem begitu banyak, ini yakin akan dimasukan juga dalam daftar kelaliman Herodes oleh Josephus. Lagi pula, di masa Herodes ada begitu banyak revolt yang dilancarkan oleh orang Israel. Pembunuhan terhadap banyak anak kecil yang dilukiskan begitu kejam oleh Mateus ini pasti telah menjadi alasan pemberontakan dari kaum Israel. Namun hal ini tidak pernah terjadi, dan tidak dicatat oleh Josephus. Banyak scholars mengatakan “the christian image of Herod” sebagai pembunuh para bayi Betlehem ini mungkin gambaran yang salah. Peristiwa pembantaian anak-anak Betlehem mungkin tidak pernah terjadi.
Mengapa ada perbedaan? Kedua penulis injil ini menulis kisah Yesus untuk memenuhi agenda theologies mereka masing-masing. Mateus dalam injilnya berkisah tentang Yesus sebagai figur yang menggenapi ramalan para nabi. Menurut para nabi, Mesias harus dilahirkan di kota nenek moyangnya Daud. Dan karena Daud berasal dari wilayah Betlehem, maka keluarga Yosef dan Maria digambarkan sebagai penghuni kota leluhur mereka, kota Betlehem. Yosef dan Maria berpindah ke utara (Nazareth) pada saat Yesus berumur 2 tahun karena merasa takut bahwa salah satu anak Herodes, Archelaus memerintah sebagai raja di Yudea (Yerusalem) sebagai pengganti ayahnya.
Berbeda dengan Mateus, Lukas menggambarkan Yesus sebagai seorang yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang terbuang, para kaum kecil dan lemah, dan yang disisihkan dari kehidupan masyarakat. Karena agenda teologis ini, maka Lukas menggambarkan bagaimana Yosef dan Maria harus menempuh perjalanan panjang dari Nazareth menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, mereka ditolak di tempat-tempat penginapan. Dan karena itu mereka harus mengalami kehidupan kaum terbuang, kaum kecil dan miskin dengan menginap di kandang yang penuh kotoran hewan. Mereka harus menyingkir ke Betlehem, sekitar 4 km selatan Yerusalem.
Perbedaan agenda teologis ini mewarnai bagaimana Mateus dan Lukas menyusus dan mempresentasikan kisah Yesus kepada pembaca atau kepada komunitas mereka masing-masing. Dan ini pulalah yang menjadi alasan mengapa dalam kitab suci ada begitu banyak kisah yang nampak bertolak belakang satu sama lain.
<b>Selamat Pesta Natal 25 Desember 2008.</b>
<b>Sekedar catatan:</b>
Kisah Herodes bisa dibaca dalam buku: <i>The New Complete Works Of Josephus</i>, translated by William Whiston (Michigan, Grand Rapids: Kregel Publications) 1999. Remarks Augustus tentang Herodes, p. 567.
Tarsis Sigho – Chicago


