Monday, December 29, 2008

Kapan_Yesus_Lahir?

Kapan Yesus Lahir?

Saya terbiasa membaca kisah kelahiran Yesus sebagai kombinasi kisah dari Lukas dan Mateus, seakan-akan kisah kelahiran Yesus yang melibatkan nama-nama seperti Herodes Agung, Quirinius, atau juga beberapa detail seperti para gembala serta tiga raja itu adalah satu kisah yang utuh. Namun ternyata bila kedua kisah kelahiran Yesus menurut Lukas dan Mateus ini dibaca dan diteliti secara terpisah maka akan kelihatan betapa besar pertentangan antara keduanya. Pertentangan paling nyata adalah soal waktu kelahiran Yesus. Kapan Yesus lahir?

Kadang kita berpikir, untuk apa bertanya tentang fakta sejarah, karena toh Kitab Suci bukan dokumen sejarah. Seorang teman dengan berapi-api mengatakan bahwa walaupun ada pertentangan dalam kisah kitab suci, imannya tak akan diganggu gugat. Saya kira iman saya juga tidak akan diganggu gugat juga. Tapi dia memberikan alasan mengapa imannya tidak terganggu; “Because biblical accoutns are not historical.” Kalimat ini sangat berbahaya. Apa yang dimaksudkan dengan “historical?” Sebuah mithos adalah sesuatu yang historical, because it was (and is still being) told in a particular historical context. Karena itu mithos juga bersifat historis. Kisah kitab suci juga demikian….!!!

Menurut kisah narratives di injil Lukas, Yesus lahir pada saat terjadinya sensus penduduk di masa Quirinius. Benar bahwa Quirinius menjadi magistrate di Syria dan ada evidence tentang sensus yang diadakan di masa Quirinius. Sensus tersebut menurut bukti-bukti arkelogis dan bukti tertulis lainnya, terjadi pada tahun 6 masehi. Jadi kalau kelahiran Yesus dihubungkan dengan sensus, maka Yesus seharusnya lahir pada tahun 6 Masehi.

Dalam paragraph kedua dari “Arabic Gospel of The Infancy” dimasukan juga data  tentang census penduduk yang dimulai oleh Kaisar Augustus.

“In the three hundred and ninth year of the era of Alexander, Augustus put forth an edict, that every man should be enrolled in his native place. Joseph therefore arose, and taking Mary his spouse, went away to Jerusalem, and came to Bethlehem, to be enrolled along with his family in his native city.”

Era pemerintahan Alexander dimulai sekitar tahun 336/335 BCE. Jadi tahun ke 309 dari masa pemerintahan Alexander sama dengan tahun 29/28 BCE. Benar bahwa dalam  catatan sejarah Kaisar Augustus mengumumkan sensus dalam tahun tersebut. Lalu mengapa Lukas menyatakan bahwa sensus yang diadakan pada masa Quirinius (tahun 6 CE) merupakan sensus pertama di masa Augustus? Mungkin sensus yang diumumkan oleh Augustus di tahun 29/28 BCE tersebut baru direalisasikan ketika Quirinius menjadi magistrate di Sirya. Catatan sejarah menyatakan bahwa sensus di Yudea yang diadakan di masa Quirinius terjadi pada tahun 6 masehi. Dan bila kelahiran Yesus dihubungkan dengan peristiwa sensus ini, maka Yesus harus dilahirkan di tahun 6 CE.

Data ini berbeda dengan yang diberikan oleh Mateus. Dikatakan oleh Mateus bahwa  Yesus lahir di masa Herodes Agung memerintah. Dan keluarga kudus harus hijrah ke Mesir selama 2 tahun hingga saat Herodes meninggal. Literary evidence mengatakan bahwa Herodes Agung meninggal tahun 4 sebelum masehi. Dan bila Yesus lahir dua tahun sebelum Herodes meninggal, maka Yesus harus sudah terlahir di tahun 6 sebelum Masehi. Biblical scholars memberikan perkiraan bahwa Yesus mungkin terlahir antara tahun 6-4 sebelum masehi.

Jadi dari dua account ini nampak bahwa antara Lukas dan Mateus ada jarak tentang tahun kelahiran Yesus yang cukup jauh, perbedaannya antara 10 tahun sampai 12 tahun. Mana yang benar? Saya bisa memperkirakan jawaban yang akan diberikan pembaca yakni bahwa kita tidak usah berpusing dengan hal-hal seperti ini, karena hal ini tidak berhubungan dengan iman. Pernyataan seperti ini kini sudah lewat masanya ketika semua huruf yang tertulis dikitab suci dianggap benar dan tak usah  dipertanyakan.

Soal lain seputar kelahiran Yesus. Menurut Lukas, keluarga Yosef dan Maria tinggal di Nazareth dan datang ke Betlehem utk maksud sensus. setelah sesnsus dan setelah melaksanakan semua tuntutan hukum seputar kelahiran Yesus mereka kembali ke  Nazareth. Namun Mateus memulai kisahnya di Betlehem dan setelah kematian Herodes mereka kembali lagi ke Betlehem, lalu pindah ke Nazareth. Kisah Mateus mengandaikan bahwa keluarga Yosef dan Maria tinggal di Betlehem sebelum kelahiran Yesus. Dan sangat natural bahwa setelah hijrah ke Mesir mereka kembali lagi ke Betlehem. It makes sense if Bethlehem was their hometown.

Tentang pembunuhan massal kanak-kanak di Betlehem oleh Herodes. Josephus mendaftarkan begitu banyak kelaliman Herodes bahkan pembunuhan terhadap anaknya sendiri demi mempertahankan kekuasaannya.  Ia memiliki sepuluh isteri (Doris, Mariamme I, Mariamme II, Malthace, Cleopatra, Pallas, Phaedra, Elpis, anak dari Salome sudarinya (Alexas), serta seorang lagi sepupunya sendiri (Mariamme III). Dari kesepuluh isterinya ini dia memiliki banyak anak yang masing-masingnya saling mencurigai serta berusaha untuk merebut kekuasaan dari tangannya sendiri. Karena itu Herodes  memerintahkan seorang Judea, Othello untuk membunuh salah satu isterinya beserta kakek dan ibu dari isterinya. Dua suami saudarinyapun dibunuh Herodes. Tiga anaknya sendiripun harus mati karena kekejamannya. Tingkah laku Herodes seperti ini membuat Kaisar  Augustus bergumam, “It is better to be Herod’s pig than his son” (Kalimat ini dicatat oleh Josephus dalam Jewish Antiquities, Lihat catatan kaki). Saat ia dirundung penyakit di akhir hidupnya dan dari ranjang sakitnya ia memerintahkan untuk membunuh ratusan laki-laki di Jericho di saat kematiannya, sehingga terdengar jeritan tangisan di hari kematiannya walau itu bukan untuk menangisi dirinya.

Dari kejadian seperti ini bisa dibayangkan bahwa Herodes pasti tanpa merasa bersalah bisa membunuh ratusan bayi di Betlehem di saat Yesus lahir. Namun kejadian  pembunuhan massal bayi di Betlehem ini tidak dicatat oleh Josephus. Bila jumlah bayi yang dibunuh di Betlehem begitu banyak, ini yakin akan dimasukan juga dalam daftar kelaliman Herodes oleh Josephus. Lagi pula, di masa Herodes ada begitu banyak revolt yang dilancarkan oleh orang Israel. Pembunuhan terhadap banyak anak kecil yang dilukiskan begitu kejam oleh Mateus ini pasti telah menjadi alasan pemberontakan dari kaum Israel. Namun hal ini tidak pernah terjadi, dan tidak dicatat oleh Josephus. Banyak scholars mengatakan “the christian image of Herod” sebagai pembunuh para bayi Betlehem ini mungkin gambaran yang salah. Peristiwa pembantaian anak-anak Betlehem mungkin tidak pernah terjadi.

Mengapa ada perbedaan? Kedua penulis injil ini menulis kisah Yesus untuk memenuhi agenda theologies mereka masing-masing. Mateus dalam injilnya berkisah tentang Yesus sebagai figur yang menggenapi ramalan para nabi. Menurut para nabi, Mesias harus dilahirkan di kota nenek moyangnya Daud. Dan karena Daud berasal dari wilayah  Betlehem, maka keluarga Yosef dan Maria digambarkan sebagai penghuni kota leluhur mereka, kota Betlehem. Yosef dan Maria berpindah ke utara (Nazareth) pada saat Yesus berumur 2 tahun karena merasa takut bahwa salah satu anak Herodes, Archelaus  memerintah sebagai raja di Yudea (Yerusalem) sebagai pengganti ayahnya.

Berbeda dengan Mateus, Lukas menggambarkan Yesus sebagai seorang yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang terbuang, para kaum kecil dan lemah, dan yang disisihkan dari kehidupan masyarakat. Karena agenda teologis ini, maka Lukas  menggambarkan bagaimana Yosef dan Maria harus menempuh perjalanan panjang dari Nazareth menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, mereka ditolak di tempat-tempat penginapan. Dan karena itu mereka harus mengalami kehidupan kaum terbuang, kaum kecil dan miskin dengan menginap di kandang yang penuh kotoran hewan. Mereka harus menyingkir ke Betlehem, sekitar 4 km selatan Yerusalem.

Perbedaan agenda teologis ini mewarnai bagaimana Mateus dan Lukas menyusus dan mempresentasikan kisah Yesus kepada pembaca atau kepada komunitas mereka masing-masing. Dan ini pulalah yang menjadi alasan mengapa dalam kitab suci ada begitu  banyak kisah yang nampak bertolak belakang satu sama lain.

<b>Selamat Pesta Natal 25 Desember 2008.</b>

<b>Sekedar catatan:</b>

Kisah Herodes bisa dibaca dalam buku: <i>The New Complete Works Of Josephus</i>, translated by William Whiston (Michigan, Grand Rapids: Kregel Publications) 1999. Remarks Augustus tentang Herodes, p. 567.

Tarsis Sigho – Chicago

Posted by pondokcerita in 17:38:26 | Permalink | Comments Off

Bibit Kacang Hijau yang Tak Bertumbuh

Seorang teman mengirimkan kisah ini kepada saya dan tak diketahui dari mana asalnya. Dikisahkan bahwa sebuah perusahaan telekomunikasi di Italia sedang mencari satu tenaga teknis untuk menangani salah satu departemen dari perusahaan tersebut.

Begitu banyak yang datang melamar dan menjalani ujian tertulis. Namun sesudah ujian tertulis ini, semua peserta diberi pekerjaan rumah, setiap orang diberi semangkok bibit kacang hijau untuk disemayamkan. Dan setelah jangka waktu yang diberikan setiap orang harus membawa pulang bibit kacang hijau yang telah tumbuh segar ke perusahaan tersebut. Siapa yang berhasil merawat kacang yang tumbuh paling segar akan  memperoleh posisi pekerjaan yang dikejar banyak orang karena memberikan jaminan gaji yang tinggi tersebut.

Setelah jangka waktu yang diberikan itu para peserta ujian kembali lagi ke perusahaan sambil membawa bibit  kacang hijau yang telah bertumbuh segar menghijau. Setiap
orang memamerkan hasil usaha mereka dan dalam hati berharap bahwa ia akan memperoleh posisi yang bagus tersebut. Nampak seketika bahwa team penilai akan sulit memutuskan  siapa yang jadi pemenangnya karena semua membawa bibit  kacang yang telah bertumbuh itu sama  bagus dan sama segarnya.

Setelah diabsensi ternyata satu orang tidak muncul di tengah para peserta. Sang manager perusahaan lalu menelpon  pelamar yang tak hadir itu dan menanyakan alasan  ketidak-hadirannya. Orang tersebut dengan penuh penyesalan serta rasa bersalah memberikan alasan ketidak-hadirannya saat ini. Ia mengatakan bahwa bibit yang diberikan itu hingga saat ini belum bertumbuh pada hal ia sudah berusaha memberi pupuk, memberi air yang cukup. Semua persyaratan yang dibutuhkan agar bibit kacang hijau bertumbuh
subur telah dipenuhinya, namun anehnya, bibit tersebut seakan berkepala keras tak mau bertumbuh.

“Aku berpikir bahwa aku pasti gagal untuk memperoleh posisi dalam perusahaan telekomunikasi ini. Karena itu saya memutuskan untuk tidak datang hari ini ke perusahaan bapa.” Dan justru di saat ketika orang itu akan meletakan gagang telephonya, sang manager memberikan kata-kata yang sungguh di luar dugaannya; “Engkaulah satu-satunya yang diterima perusahaan kami. Profisiat!” Orang itu heran dan kaget tak  percaya.

Sesungguhnya, bibit kacang hijau yang dibagikan kepada para peserta tersebut adalah bibit yang telah diproses sehingga tak bisa bertumbuh lagi. Perusahaan akan dengan mudah mengetahui peserta mana yang jujur. Dan ternyata hanya seorang yang yang tak mampu membawa bibit kacang yang telah tumbuh. Dan dialah orang yang dipilih itu.

“Inilah prinsip kami, nilai moral dalam pekerjaan lebih ditinggikan ketimbang  keberhasilan dalam bekerja.”  Demikian sang manajer menjelaskan.

Beri perhatian lebih pada karakter dari pada reputasi, karena karakter adalah diri sebenarnya, sementara reputasi hanya anggapan orang tentang anda. (John Wooden)

Tarsis Sigho

Posted by pondokcerita in 17:12:00 | Permalink | Comments Off

Sunday, December 14, 2008

Mengejar Bayangan

Seorang anak kecil bercucuran keringat. Ia telah berusaha cukup lama berlari dan terus berlari. Ia ingin mengalahkan sesuatu di depannya, ia ingin melampaui bayangannya sendiri. Namun semakin ia kejar, semakin yang dikejar itu menjauh mendahuluinya. Tak peduli berapa jauh ia mengejar, berapa cepat ia berlari, bayangannya selalu tetap saja berada di depannya, pada hal ia kini sudah kehabisan tenaga.

Akhirnya orangtuanya tahu juga apa yang sedang diperbuat anaknya. Sang ibu dengan penuh kasih memberikan sebuah nasihat yang amat sederhana; ‘Anakku sayang! Hanya ada satu tindakan sederhana yang perlu engkau perbuat untuk mengalahkan bayanganmu, yakni berjalan menghadap matahari. Karena dengan itu bayanganmu pasti akan berada di belakangmu. Hanya dengan itu engkau menjadi pemenangnya’.

———-
- Anda mungkin pernah atau sedang berusaha sekuat tenaga untuk melampaui suatu ‘bayangan’ tertentu. Mungkin anda berhadapan dengan problema pekerjaan, setudi, atau masyalah perkawinan dan kehidupan rumah tangga.
- Bila saat itu datang, mari kita berdiri menghadap sang Matahari abadi
yang memancar dalam setiap hati.
Yesus yang bangkit adalah Matahari sejati kita.

Tarsis Sigho

Posted by pondokcerita in 02:19:45 | Permalink | Comments (1) »

Sunday, November 30, 2008

Who Cares?

Selagi kerjain paper, saya coba menghibur diri dengan sebuah kotbah dari Uskup Agung Taipei, Mgr. John Hung, SVD. Saya tiba-tiba tertegun mendengar sebuah kalimat yang diucapkan sang Uskup. Kalimatnya singkat, tapi cukup membuat saya untuk berhenti dari paper saya dan duduk sebentar dalam hening membiarkan kata-kata ini berbicara secara lebih kuat. Kalimat ini tentu saja bukan kalimat yang baru, namun hari ini ia berbicara secara baru kepada saya. Kalimat singkat itu berbunyi demikian:

 

“People don’t care how much you know, but they do care how much you care for them.”

 

Kalimat ini mengingatkan saya akan nasihat seorang suster tua asal New Zealand beberapa bulan lalu. Ketika saya lagi pusing untuk selesaikan beberapa paper, dia datang dan berbisik di telinga saya; “Ziarah, There is only one important thing you should bring to others, that is the love of God. Tell the people how much God loves them through your own examples.”

 

Thank you my dear Sister and Bishop!!!

Tarsis Sigho

Posted by pondokcerita in 16:54:54 | Permalink | Comments Off

Harta Karun Apa Yang Anda Cari??

Dalam Injil hari minggu ini (27 Juli 2008: Minggu biasa ke 17), Yesus mengumpamakan hal Kerajaan Allah dengan harta karun yang dikuburkan di tengah ladang (Mat 13: 44-52). Mungkin hal ini akan nampak aneh bagi kita yang hidup di tengah jaman ini. Namun demikian, hal seperti ini merupakan hal yang amat biasa bagi orang-orang yang hidup di Palestina pada jaman Yesus. Di jaman silam bank untuk menyimpan barang berharga juga sudah dikenal, namun jasa bank tersebut tak bisa dipakai oleh kalangan umum seperti dewasa ini. Orang kebanyakan biasanya menggunakan tanah di ladang sebagai tempat yang paling aman untuk menyimpan harta pusaka mereka. Sebagai contoh, dalam perumpamaan tentang talenta, penerima talenta terakhir yang paling sedikit itu menyembunyikan talenta tersebut dalam tanah karena ia takut kalau-kalau talenta yang hanya satu tersebut hilang dari tangannya. Tanah merupakan jaminan paling aman agar talenta tersebut tidak hilang (Mat. 25:25).
Ada sebuah pepatah yang diterima oleh kalangan para Rabi bahwa tempat satu-satunya yang paling aman untuk menyimpan uang atau harta pusaka adalah tanah.

.

Berbicara tentang harta karun, kita mungkin ingat kata-kata Kitab Suci; “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat 6:21). Keberadaan hati manusia dihubungkan dengan keberadaan harta bendanya. Ada banyak kisah yang membenarkan hal ini. Mungkin ada yang pernah nonton filem “Raiders of the Lost Ark” atau “The Last Crusade.” Dalam Raiders of the Lost Ark” Indiana Jones berperan sebagai seorang yang sedang mencari dan mengejar sebuah pusaka istimewa, the Ark of the Covenant yang diberikan Yahwe kepada kaum Israel dalam Kitab Keluaran. Sedangkan dalam “The Last Crusade,” Jones sedang mengejar sebuah pusaka yang lain, yakni the Holy Grail, piala yang digunakan Yesus pada perjamuan malam terakhir. Ini adalah kisah filem. Dalam kehidupan nyata kita temukan juga banyak orang yang berusaha mengejar harta kekayaan dan bermimpi agar kalau boleh dalam sekejap saja ia bisa menjadi kaya. Seorang bapa di Taiwan menjual hampir semua harta miliknya hanya untuk membeli tiket lottery. Dia berharap bahwa nanti ia akan memiliki lebih banyak dari apa yang dijualnya itu. Namun pada akhirnya ia hanya bisa menggigit jari, karena harta besar yang datang secara tiba-tiba itu tak pernah muncul. Dia lupa bahwa harta kekayaan akan muncul setelah melalui kerja keras.

.

Harta kekayaan juga menjadi motivasi dasar yang menggerakan tokoh dalam perumpamaan hari ini. Dikisahkan bahwa setelah menemukan harta pusaka tersebut ia kembali dan menjual segala harta kekayaannya dan membeli tanah di mana harta pusaka tersebut dikuburkan. Tapi harta pusaka mana yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan hari ini?

.

Jawabannya bisa ditemukan dalam bacaan pertama hari ini (1 Raj 3:5,7-12). Sekarang mari kita berpikir sebentar, bila seandainya Tuhan menampakan diri kepada kita dan berkata, “Mintalah apa saja yang kau kehendaki, dan Aku akan memberikannya kepadamu!” Apa yang akan anda minta? Harta kekayaan? Umur yang panjang? Kehidupan keluarga yang bahagia? Kesehatan yang baik? Kedamaian dalam dunia kita ini? Mungkin!!! Tapi Salomon meminta sesuatu di luar litany di atas. “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu serta membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (1 Raj 3:9). Tentu saja sebagai raja dia tidak memerlukan harta kekayaan. Namun dia bisa saja meminta agar diberikan kekuatan untuk membalas dan menghukum musuh-musuhnya. Namun sebaliknyalah yang diminta oleh Salomon, yakni kebijaksanaan untuk melayani kawanan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

.

Pilihan Salomon sungguh menyenangkan hati Tuhan. “Adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomon meminta hal yang demikian” (1 Raj 3:10). Pilihan Salomon tidak didasarkan pada kebutuhan peribadinya sendiri, tetapi sebaliknya dipusatkan pada kepentingan khalayak banyak, demi kepentingan orang lain.

.

Bila anda diberi kesempatan untuk meminta apa saja, apa yang anda minta dalam hidup anda? Harta pusaka apa yang anda inginkan? Sebuah kisah membantu saya untuk membuat pilihan bagi diri saya sendiri.

__________________________

Para guru di sebuah sekolah menemukan salah seorang anak dalam kelas tersebut yang sungguh tak mampu secara akademik dan menuntut kesabaran yang tinggi dari para gurunya. Orangtua anak tersebut juga memahami kesulitan yang dialami anak mereka dan selalu berusaha agar sang anak itu mampu melihat kelebihan dalam dirinya sendiri. Walau dia kurang mampu secara akademik, namun dia merupakan anak yang baik, ia menyapa siapa saja dengan senyumnya yang menawan.

.

Namun setelah tamat SMA, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan sepeda motor. Sang ibu menulis untuk surat kabar;

.

“Hari ini kami menguburkan putra kami yang baru berumur 20 tahun. Ia meninggal dalam kecelakaan sepeda motor hari Jumat kemarin. Seandainya saya tahu bahwa hari kemarin merupakan hari yang terakhir, saya akan mengatakan kepadanya betapa saya mencintainya, betapa saya bangga atas dirinya. Saya akan mengatakan betapa menawannya senyumannya, betapa riang ledakan tawanya. Setelah menghitung segala kelemahannya, aku menemukan bahwa kelemahannya tak bisa dibandingkan dengan deretan kebaikan yang dia miliki. Aku telah kehilangan saat yang baik untuk mengatakan bahwa saya sungguh mencintainya, namun aku yakin begitu banyak bapa dan ibu masih memiliki kesempatan untuk itu. Katakan kepada anak-anakmu apa yang engkau inginkan agar mereka dengar selagi anda masih memiliki kesempatan untuk itu.”

.

Sang ibu masih melanjutkan; “Aku teringat di pagi hari Jumat sebelum kematiannya. Sebelum keluar rumah dia memanggilku. Apa yang dikatakannya? “Mami, saya hanya memanggil untuk mengatakan betapa saya mencintai engkau. I just call to say I love you, Mami! Bye!!” Anakku telah pergi namun kata-katanya kini masih terdengar jelas. Ia meninggalkan harta karun yang paling indah buatku, yakni bahwa ia tidak pernah lupa untuk mengungkapkan cintanya kepadaku. Harta inilah yang akan selalu saya kenang, saya akan mengungkapkan cinta tersebut dalam bentuk perhatianku kepada orang lain.”

.

Sang ibu yang kehilangan anaknya ini telah menemukan harta karunnya. Harta apa yang akan anda cari? Umur panjang? Kekayaaan? Semoga harta karun yang aku dan anda cari sama seperti yang diminta oleh Salomon dan oleh sang ibu dalam kisah di atas, yakni sebongkah hati yang bijaksana yang memampukan kita untuk melayani dan mencintai orang lain.

Tarsis Sigho

Posted by pondokcerita in 16:53:43 | Permalink | Comments Off

Friday, August 5, 2005

Ego Emini

Dalam Injil hari ini (Mat 14: 22-33), kita membaca bagaimana Matius menulis bahwa “Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang”, sementara Ia sendiri mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Kata asli dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan dengan “memerintahkan” ini (aenagkasen), memiliki konotasi yang berarti “memaksa, mengharuskan”. Nampaknya bahwa Yesus tak menghendaki untuk memperoleh jawaban “tidak” dari para muridNya. Ia sangat mengharapkan agar para muridNya dengan segera meninggalkan tempat itu dengan perahu tanpa diriNya.

Kita mungkin akan dipenuhi berbagai tanda Tanya ketika berhadapan dengan kenyataan ini. Mengapa Yesus memaksa mereka? Namun untuk memahami makna di baliknya, baiklah kita juga memperhatikan kisah paralelnya dalam Injil Yohanes. (Yoh 6:14-15): “Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia. Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.”

Dari kutipan Injil Yohanes di atas, dapatlah kita temukan bahwa para murid juga mungkin memberikan reaksi yang sama. Dalam hati para murid terdapat keinginan agar Yesus menjadi raja mereka. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di antara para murid untuk memperebutkan tempat terhormat di sisi Yesus (Mat 18: 1-5; Mark 9: 33-37 ; Luk 9: 46-48; Luk 22: 24), menjadi bukti yang jelas bahwa para murid sama seperti orang banyak dalam Injil Yohanes di atas yang mengharapkan agar Yesus menjadi raja mereka.

Untuk emnghindari scenario ini maka Yesus menyuruh para muridNya untuk segera menyeberang. Setelah menyuruh orang banyak itu pulang, Ia sendiri mendaki bukit untuk berdoa. Waktu yang hening ini juga tentu saja dapat digunakanNya untuk mengenang kematian sepupunya, Yohanes Pembaptis yang dibunuh Herodes beberapa saat lalu.

Kedatangan angin sakal secara tiba-tiba merupakan hal yang biasa di danau Galilea. Danau ini terletak kira-kira 600-700 kaki do bawah permukaan laut dan dikelilingi oleh bukit dan lembah tajam. Karena itu ketika terjadi perubahan suhu udara, maka akan teradi angin sakal yang dating secara tiba-tiba di luar perkiraan kita. Danau Galilea berada pada suatu alur lembah geologis yang menghubungkan Syria dan Afrika. Karena lembah tersebut begitu sempit maka angin akan berhembus dengan kecepatan yang tinggi.

Bagaimana reaksi para murid? Para murid terkejut dan berseru: “Itu hantu!”. Apakah para Murid seumpama seekor kucing yang penakut? Karena danau Galilea sering diserang angin sakal secara tiba-tiba, maka banyak perahu telah ditenggelamkan di sana. Pada masa Yesus, banyak orang percaya bahwa danau atau laut merupakan tempat kediaman kekuatan jahat, tempat kediaman hantu malam. Di tengah malam kelam ditambah serangan angin sakal yang tiba-tiba mereka melihat sosok hitam berjalan di atas air. Tentu saja reaksi mereka sama dengan reaksi kita dewasa ini. Mereka mengira bahwa mereka kini berhadapan dengan kekuatan jahat dan hidup mereka kini tengah menemukan titik akhirnya.

Hal istimewa dalam bacaan Injil hari ini adalah bagaimana Yesus memperkenalkan diriNya ketika para murid sedang dilanda ketakutan. Yesus berkata; “Aku ini! It is I.” Namun ungkapan yang dipakai Matius ini tidak hanya sekedar suatu perkenalan diri Yesus terhadap para muridNya yang sedang ketakutan itu. Yesus menggunakan suatu ungkapan yang memiliki arti yang dalam, suatu ungkapan biblis Yunani yang dipakai baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru “Ego Eimi”, suatu perkenalan nama yang sama yang dipakai dalam kitab Septuaginta ketika Yahwe memperkenalkan diriNya kepada Moses di padang gurun. “I AM. Aku adalah Aku.”

Jadi kisah ini menghadirkan kembali kisah Perjanjian Lama di mana Allah menuliskan perjanjianNya pada dua batu. Kehadiran dua loh batu di tengah umat Israel di padang gurun merupakan tanda kehadiran Allah di tengah mereka. Yahwe yang berada jauh di singgasanaNya hanya hadir lewat tanda-tanda. Namun bacaan Injil hari ini, ketika Yesus menggunakan kata-kata yang sama saat memperkenalkan diri, Ia sesungguhnya juga mengatakan kepada para muridNya bahwa Ia ada sama dan setara dengan Yahwe yang pernah muncul dalam Perjanjian Lama. Namun kehadiran Allah kini tidak lagi lewat tanda-tanda, tetapi lewat diri Yesus sang Allah yang menjelma. Allah hadir secara nyata dalam perjuangan manusia ketika manusia dihadang badai hidup, ketika manusia berada dalam kegelapan malam, ketika manusia dilanda ketakutan. Di saat-saat seperti inilah Tuhan dating dan berkata; “Ego Eimi. I AM”.

Sungguh amat kebetulan. Pagi ini ketika saya membuka lembaran buku harian saya, saya temukan coretan-coretan kecil di bulan Januari lalu yang berbicara tentang peristiwa perkenalan diri Yahwe pada Musa di padang gurun, yang bunyinya demikian;

“I am who I am!” Ini adalah bagaimana Yahwe memperkenalkan diriNya kepada Musa di padang gurun.

Namun kebanyakan kita di zaman ini akan menggunakan kata-kata yang lain; “I am what I have. I am what I get. I am what I do.” Kalimat-kalimat ini mengatakan bahwa nilai keberadaan diriku bukan terletak pada nilai intrinsic dalam diri saya, tetapi ditentukan pada dan oleh apa yang ada di luar aku, yang ditempelkan pada diriku. Aku adalah apa yang aku miliki. Nilai diriku ditentukan oleh harta kekayaan yang aku miliki atau oleh gelar pendidikan atau status masyarakat yang aku miliki. Betapa kita mementingkan “kulit” dari pada “isinya”. Hari ini Tuhan berkata lain; “I am who I am”. Siapakah aku? Aku adalah gambaran Tuhan. Inilah seharusnya yang menjadi identitas intrinsik diriku.

Tarsis Sigho – Taipei

Posted by pondokcerita in 06:35:59 | Permalink | Comments (1) »

Monday, July 18, 2005

Tangan Yang Berdoa

Tangan Yang Berdoa

¡°Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.¡±

Sekali lagi pada hari ini saya kembali berguru pada W. Habdank, seorang pelukis Jerman. Perhatikan lukisan Hadbank ini. Seorang tua yang berdoa di sebuah malam kelam. Sebatang lilin membantu memberikan penerangan baginya serta membantu menciptakan sebuah suasana doa. Adalah hal yang biasa bagi kita untuk menyalakan lilin ketika sedang berdoa. Di setiap perayaan liturgi kita pasti akan menyalakan lilin. Ketika berada di gua Maria kita akan menyalakan lilin. Terang lilin mengingatkan kita akan Yesus yang adalah Terang dunia, Terang yang kita agungkan di malam paska, sebuah Terang yang menang dan jaya atas kegelapan dan kematian.

Hadbank menghadirkan sebatang lilin dalam lukisan ini, dan dengan demikian kita segera tahu bahwa sang bapa tua yang menjadi pusat utama lukisan ini sedang berdoa. Perhatikan secara saksama letak lilin tersebut serta pancaran cahayanya. Lilin tersebut berada di samping kiri agak ke belakang dari sang bapa itu. Adalah logis bahwa dalam posisi lilin yang demikian muka sang bapa terutama sisi kanannya seharusnya berada dalam bayangan gelap. Namun aneh, mukanya kelihatan secara amat jelas dan cahaya lilin tersebut begitu jelas terpancar di wajahnya.

Bila kita memperhatikan lagi secara baik, maka kita akan menemukan tanpa kesulitan bahwa kedua tangan sang bapa terbuka tepat di hadapannya. Ia berdoa dengan tangan terbuka. Dan cahaya lilin yang ada di samping belakangnya seakan kini dipancarkan kembali oleh kedua tangannya ke arah wajahnya. Dan inilah makna sebuah doa dalam pandangan Hadbank. Bahwa sebuah doa adalah merenungkan kembali, meniti kembali setiap derap langkah kita, meniti kembali segala sesuatu yang telah kita kerjakan dengan kedua tangan kita, dengan tujuan untuk menemukan kehadiran cahaya ilahi yang selalu menyertai derap dan langkah hidup kita. Kita tak dapat melihat Allah sebagai suatu bayangan hampa, tetapi sebagai Dia yang ada di samping kita, sebagai Dia yang menuntun tindak lakuku, sebagai Dia yang membimbing seluruh pekerjaanku. Dalam kesibukan harianku aku seharusnya mampu melihat bahwa Allah adalah seumpama lilin yang berada di sampingku.

Mukjizat yang dikerjakan Allah bisa terjadi dengan perantaraan kedua tangan kita. Kerelaan kita mengulurkan tangan membantu orang lain menghadirkan mukjizat Allah dalam hidup orang tersebut. Demikian jugalah halnya dengan mukjizat yang kita dengar dalam bacaan pertama hari ini (Kel 14:21-15:1). Allah memberikan perintah kepada Musa untuk mengulurkan tangannya. Dan di saat Musa menulurkan tangannya air Laut Merah terbagi dua membentuk dinding yang menyediakan dataran kering lewat mana kaum Israel menyeberangi laut tersebut. Uluran tangan Musa pulalah yang menyelamatkan kaum Israel dari kejaran bala tentara Mesir. Lewat kedua tapak tangannya Musa melihat bahwa Allah kini berdiri di sampingnya. Lewat kedua tapak tangannya Musa tahu bahwa Allah tengah menciptakan mukjizat. Kedua tapak tangannya merupakan kelanjutan tangan Tuhan untuk membimbing, untuk menuntun umat Israel menuju tanah terjanji, menuju tanah yang dipenuhi oleh susu dan madu.

Kini, marilah kita juga membuka kedua tapak tangan kita dan meletakannya di hadapan kita. Perhatikan kedua tapak tangan ini, dan bertanyalah kepada diri sendiri; ¡°Apakah aku mampu melihat kehadiran Tuhan ketika aku mengerjakan tugasku dengan kedua tapak tangan ini? Apakah tanganku juga merupakan kelanjutan tangan Tuhan untuk membantu orang lain agar hidup lebih baik dan lebih manusiawi?¡± Kalau jawaban kita adalah ¡°tidak¡±, maka marilah kita memulainya hari ini juga.

Tarsis Sigho - Taipei

Bacaan Hari Ini:

Kel 14:21-15:1
Mat 12:46-50

Posted by pondokcerita in 14:19:06 | Permalink | Comments Off

Thursday, June 16, 2005

Dragon Boat Festival

 

TAIWAN     Church Joins Dragon Boat Race To Evangelize, Unite Catholics

 

TAIPEI (UCAN) — Boat racing was not how an Irish missioner expected to evangelize when he reached Taiwan. In addition Father Brian Lawless “never expected the dragon boat race to be so exhausting,” the Divine Word priest said after the Chinese Dragon Boat Festival in northern Taiwan.

 

“Our performance was not bad in the first round, but we rowed too fast when the second round began and could not keep up our rhythm. Then one side paddled stronger than the other, and so our boat slanted across all lanes,” he told UCA News June 13. Father Lawless, another Divine Word priest and 40 paddlers, who formed the “Five Loaves” and “Two Fish” teams, started practicing a month before the June 11-12 Taipei County dragon boat race held in Pitan, a scenic spot near Taipei.

 

The two Catholic teams were among 13 mixed-sex teams in the contest. Father Lawless’ “Five Loaves” team finished last during the June 11 preliminary races, while Father Tarsisius Sigho’s “Two Fish” team did better. It managed to enter the June 12 final, in which it finished sixth. Though his team finished last, Father Lawless had no regrets about their effort, which he saw as an opportunity for evangelization.

 

“The result was not important,” Father Sigho agreed, “as our goal to introduce and integrate the Church into the community was achieved.” The Indonesian parish priest of the Holy Trinity Church told UCA News June 11 that “through this alternate evangelization, we want to make known that the Catholic Church is an energetic member of society.” His parish joined this traditional Chinese festival activity last year, and this year members of other parishes in the deanery were invited, he said. Non-Catholic competitors called the two Catholic entries the “Alleluia teams” and invited them to join again next year, Father Sigho added.

 

“We are the only two Church teams in Taiwan to join a dragon boat race. The indigenous Catholics were surprised and particularly happy to see us there,” he said. The first, second, third and fourth prizes in the mixed-sex section went to teams of indigenous people, and some of their members also were Catholics.

 

According to Lin Weimin, who coordinated the two Catholic boat teams, parishioners from the six parishes of the fifth deanery of Taipei archdiocese volunteered, along with some non-Catholics. Lin said Biblical images were used for team names to remind the Catholics to strengthen their faith through the Blessed Sacrament and to thank God. Through their participation they also hoped to attract new sheep and re-gather lost sheep under God’s guidance and leadership, he added. At the riverbank more than 100 laypeople and priests from the deanery cheered, church choirs sang hymns and Church workers gave away thousands of promotional leaflets and video compact disks of the Gospel of Saint Mark, Lin recalled.

 

Besides promoting evangelization, the activity united Catholics within the deanery, Father Sigho pointed out. “We did not identify ourselves by parish, but felt united in a warm atmosphere,” he said. To maintain the bond, the Indonesian missioner decided to invite other parishes to discuss future cooperation, such as a joint summer program for children.

 

The Dragon Boat Festival on the fifth day of the fifth month of the Chinese lunar calendar fell on June 11 this year. In Chinese societies, dragon boat races are held and “zongzi,” glutinous rice wrapped in bamboo leaves, is eaten in remembrance of Qu Yuan (343-290 B.C.). The poet-minister of the Warring States period (475-221 B.C.) drowned himself in a river to protest against the corruption of the era. Since his people could not find his body, they beat drums on boats to scare away the fish and threw zongzi into the river to keep fish from eating his body.

 

Father Lawless noted, “For me, a middle-aged man, it was the first and probably the last time I will row a boat,” but the laypeople have decided to set aside two months to prepare for next year’s event.

Posted by pondokcerita in 14:01:32 | Permalink | Comments Off

Monday, May 30, 2005

Maria dan Elizabeth

Zef 3:14-18 atau Rom 12:9-16
Luk 1:39-56

Aku seorang pria dan lebih lagi seorang imam, karena itu tak pernah mengalami sendiri pergumulan seseorang yang sedang mengandung. Hanya kadang kala bertemu dengan umat yang sedang mengandung dan bertanya tentang keadaan babynya. Dan setiap ibu akan menceritakan pengalaman yang berbeda tentang anak yang masih ada dalam rahimnya. Seorang ibu dalam ketakutan datang memohon agar saya mempersembahkan misa bagi anaknya yang menurut dokter harus sudah terlahir dua minggu yang silam. Seorang ibu yang lain menceritakan bahwa anak dalam rahimnya begitu tenang. Ada juga ibu yang mengatakan bahwa anaknya tak pernah tenang tetapi selalu menendang dinding rahimnya. Beberapa minggu yang lalu televisi Taiwan dengan bantuan tekhnologi modern menayangkan bagaimana perkembangan seorang anak dalam rahim ibunya mulai dari saat pertama pertumbuhannya hingga saat ia siap untuk dilahirkan. Bisa dilihat bagaimana sang bayi memancarkan emosinya; kadang tersenyum sendiri, kadang berkerut dahi, kadang kelihatannya bahwa sang bayi sedang dalam keadaan marah.

Hari ini kita Lukas membantu kita untuk berhadapan dengan seorang bayi Yohanes Pembaptist. Yohanes Pembaptist ternyata bukan tipe bayi yang pendiam dalam rahim ibunya. Ia tak hanya selalu aktif bergerak. Namun lebih dari itu, Yohanes “melonjak kegirangan.” Dalam bahasa sastra Indonesia, kita sering menggambarkan anak domba, anak kijang atau kambing yang melonjak di padang gurun, suatu ekspresi kegembiraan dan kebebasan. Ekspresi tersebut bias dirasakan oleh Elizabeth ketika salam Maria sampai pada telinganya.

Kedua wanita dalam bacaan Injil hari ini, Maria dan Elizabeth sama-sama sedang mengandung. Elizabeth adalah seorang wanita yang telah lanjut umur, yang menurut keyakinan ilmu pengetahuan tak mungkin lagi untuk mengandung. Ia telah dianggap sebagai wanita yang mandul. Dan Maria? Dari segi umurnya Maria tak memiliki hambatan sedikitpun untuk mengandung, karena ia adalah seorang gadis muda. Namun demikian keduanya berhadapan dengan situasi yang sama; mereka adalah saudara sepupu, keduanya kini menerima kandungan mereka yang pertama, lebih lagi keduanya mengandung oleh karena kekuatan Roh, mengandung oleh karena karya Allah dalam diri mereka, dan anak-anak yang akan mereka lahirkan telah ditetapkan Allah demi keselamatan seluruh umat manusia.

Keduanya harus berhadapan dengan situasi yang sama, yakni bahwa berita gembira kehamilan mereka kini tak bias dibagikan kepada orang lain, karena keduanya harus berhadapan dengan tuntutan masyarakat dan tuntutan hukum yang hidup di masa itu. Elizabeth terpaksa mengurung dirinya selama lima bulan (Luk 1:24), sedangkan Maria kini mengandung di luar kehidupan perkawinan. Tahukah anda apa yang harus diterima seseorang sebagai upah bila ia mengandung di luar perkawinan? Kitab Ulangan menulis secara amat jelas. “Tetapi jika tuduhan itu benar dan tidak didapati tanda-tanda keperawanan pada si gadis, maka haruslah si gadis dibawa ke luar ke depan pintu rumah ayahnya, dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati, sebab dia telah menodai orang Israel.” (Ulangan 22:20-21). Yesus sendiri pernah diminta menjadi hakim untuk mengadili wanita yang kedapatan demikian (Yoh 8; 1-11).

Jadi kedua wanita yang mengandung dalam bacaan Injil hari ini, di satu pihak diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan, namun di pihak lain mereka juga diliputi oleh ketakutan, oleh kecemasan. Dalam situasi demikian mereka pasti saling memberikan kata-kata peneguhan, mereka mungkin bersama-sama mengalirkan butir air mata, mungkin tertawa bersama, dan lebih lagi mereka pasti berdoa bersama-sama memohon kekuatan dari Allah.

Setelah Malaekat Gabriel mengunjungi Maria dan mengatakan bahwa ia akan mengandung seorang putra, sang malaekat memberikan sebuah bukti, yakni bahwa Elizabeth kini telah mengandung. “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.” (Luk 1:36). Mari lalu bergegas menuju pegunungan Yudea menempuh waktu dan jarak tiga sampai lima hari perjanan.

Ketika tiba, Maria menyalami Elizabeth, sebuah salam yang merevelasikan kenyataan kedua wanita tersebut di hadapan Allah. Maria sebelumnya tak pernah tahu peranan Elizabeth di hadapan Allah, kecuali setelah direvelasikan oleh utusan Allah, oleh malaekat Gabriel. Dan Elizabethpun tak pernah tahu sebelumnya tentang peranan Maria di hadapan Allah, namun kini Allah merevelasikannya kepadanya lewat gerakan, lewat lonjakan bayi yang ada dalam rahimnya.

Lonjatan bayi dalam rahim Elizabeth merupakan sarana, merupakan alat lewat mana Allah merevelasikan status Maria kepada Elizabeth. Setelah Elizabeth merasakan kegembiraan bayi dalam rahimnya, ia tahu bahwa yang kini berada di hadapannya bukan sekedar sepupunya, tetapi seorang Maria yang dipakai sebagai alat di tangan Tuhan demi karya penebusan umat manusia. Zakarias telah diberitahu oleh utusan Allah bahwa anaknya akan dipenuhi oleh Roh Kudus bahkan sejak ia masih berada dalam rahum ibunya. (Luk 1:15). Ini berarti Yohanes menjadi seorang nabi yang “mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17). Dan kini kita telah melihat bahwa Yohanes telah memulai karyanya sebagai seorang nabi ketika ia masih berada dalam rahim ibunya dengan cara “melonjak kegirangan.” (Luk 1:41,44). Lonjakan Yohanes karena ia tahu bahwa kini di hadapannya hadir seorang Messias. Lonjakan inilah yang membuat Elizabeth sadar bahwa Maria tak hanya telah mengandung, tetapi ia mengandung seorang Messias.

Ada begitu banyak kejadian yang tejadi setiap hari di sekeliling kita. Bila kita rela membuka mata dan telinga serta mata hati kita, kita akan menjadi peka akan kehadiran Tuhan. Kita akan menjadi peka bahwa segala sesuatu merupakan alat yang dipakai Tuhan untuk merevelasikan suatu kebenaran tentang diri kita, kebenaran tentang hidup kita. Mari kita terus mendengarkan bahasa Tuhan yang berbicara kepada kita setiap hari.

Tarsis Sigho – Taipei

Posted by pondokcerita in 11:13:54 | Permalink | Comments Off

Boss terbaik

Seorang pekerja TKI datang menemuiku dengan deraian air mata. Telah hampir tiga tahun ia bekerja di Taiwan, namun baru sekali ini ia datang ke gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Itupun terjadi tanpa sepengetahuan tuannya. Dalam masa dua tahun lebih itu, apapun yang terjadi, apapun yang diminta sang tuannya untuk dikerjakannya selalu saja ia lakukan, dengan satu harapan agar sang tuannya boleh mengisinkannya mengikuti perayaan misa hari minggu. Namun ia pada akhirnya menemukan dirinya telah diikat sebagai seorang budak hina yang bekerja di bawah perintah dan ancaman tuannya. Ia sungguh mengidamkan suatu situasi kerja yang aman dan bebas. Namun ternyata itu hanya ada dalam mimpinya.

 

Ada begitu banyak hal yang bisa kita pelajari dari perumpamaan Injil tentang penggarap-penggarap di kebun anggur yang kita dengar dalam bacaan Injil hari ini. Sang pemilik kebun anggur adalah seorang yang begitu baik hati, yang menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja. Ada pagar sekeliling kebun yang menjamin keamanan bagi para pekerja. Tempat pemerasan anggur sudah disiapkan oleh tuan kebun anggur tersebut. Tak lupa ia mendirikan juga menara penjagaan. Kebun anggur yang disewakan kepada para pekerja itu adalah tempat kerja yang aman dan nyaman. Para pekerja tak perlu merasa takut dan cemas akan diserang binatang jalang atau oleh musuh, karena tempat itu sungguh terlindungi.

 

Bukan itu saja. Sang tuan kebun anggur itu lalu meninggalkan kebunnya setelah disewakan kepada para pekerja. Sang tuan kebun memberikan kepercayaan seratus persen kepada para pekerjanya. Para pekerja diberi mandat sebagai seorang “pemilik”, untuk mengelola kebun tersebut. Mereka diberi kebebasan, dan sang tuan kebun itu menghargai kebebasan yang telah diberikannya kepara pekerjanya. Oh…di manakah bisa kita temukan boss perusahaan yang memberikan kebebasan penuh kepada pekerjanya dewasa ini? Berapa banyak para pekerja yang harus menerima kata-kata keras, kata-kata umpatan yang keluar dari mulut sang boss setiap hari? Berapa banyak orang yang setiap pagi harus membawa serta rasa takut dan cemas ketika sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya? Para pekerja dalam perumpamaan Injil hari ini menikmati kebebasan yang tak dinikmati oleh para pekerja di jaman kita ini.

 

Sang tuan kebun adalah seorang sabar, seorang yang lapang, seorang yang mudah mengampuni dan tak menyimpan kesalahan para pekerjanya dalam hatinya. Berapa banyak orang yang dianiaya oleh para pekerja di kebun anggur itu dalam bacaan hari ini? Hamba pertama dipukul. Demikian juga hamba berikutnya, bukan hanya dipukul tetapi bahkan dibunuh. Sang tuan kebun dengan sabar menerima semua perlakuan para pekerjanya. Boss manakah yang memiliki sikap seperti ini? Tidak banyak!

 

Sikap sang tuan kebun dalam bacaan Injil hari ini adalah sikap yang dimiliki Allah. Allah yang menyiapkan segala sesuatu bagi kehidupan manusia, Allah yang menciptakan alam semesta dan melimpahkannya kepada manusia. Ia adalah Allah yang memberikan kebebasan kepada manusia, Allah yang menghargai kebebasan manusia. Ia adalah Allah yang senantiasa mengampuni, Allah yang sabar berhadapan dengan sikap manusia yang tidak seia kepadaNya. Namun yang terjadi bila manusia tak bersedia untuk mengubah diri? Apa yang terjadi apabila manusia tetap berkubang dalam kegelapannya? “Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain.”

 

Bila anda memperhatikan kehidupan anda, maka anda akan menemukan bahwa Tuhan sungguh begitu sabar terhadap diri anda. Kendatipun anda sering tidak setia, tapi Tuhan tetap setia. Namun hendaknya kita sadar bahwa kita dituntut senantiasa untuk memperbaharui diri, untuk mengubah diri, dan tak menjadi serupa dengan para pekerja di kebun anggur dalam bacaan hari ini yang pada akhirnya harus dibinasakan.

 

Tarsis Sigho – Taipei

 

Tobit 1:3; 2:1-8

Mark 12:1-12

Posted by pondokcerita in 06:28:43 | Permalink | Comments Off